02 Agustus, 2025


Bima, 2 Agustus 2025
— Kementerian Agama Kabupaten Bima menggelar kegiatan Serap Aspirasi Mitra Kementerian Agama Tahun 2025 bersama Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Mahdalena, SS., MM., dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bima. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Bima pada Sabtu, 2 Agustus 2025, dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai unsur tokoh agama, pengurus dan pembina pondok pesantren, kepala madrasah, penyuluh agama, serta perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Bima.

Acara dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Ust. Sudirman, S.Pd.I, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa yang dipimpin oleh H. Sudirman H. Hasan, S.Pd.I., M.Si..

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi NTB yang diwakili oleh Hj. Nurlaila Ismi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sinergi antara Kementerian Agama dan para tokoh agama serta lembaga sosial keagamaan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi dalam mengembangkan moderasi beragama dan penguatan pendidikan keagamaan.

Selanjutnya, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bima membuka secara resmi kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa forum ini merupakan sarana penting untuk menghimpun masukan, kritik konstruktif, dan harapan dari para mitra strategis Kemenag di daerah.

Kegiatan inti berupa sesi serap aspirasi dipandu oleh moderator, Imran, S.Pd.I, SH. Dua narasumber utama yang hadir, yakni H. Mujiburrahman, S.Ag., dan Hj. Mahdalena, SS., MM., memaparkan berbagai program dan kebijakan pemerintah pusat, serta menyerap secara langsung masukan dari peserta seputar kebutuhan dan tantangan yang dihadapi lembaga-lembaga keagamaan di daerah, termasuk isu pembinaan pesantren, KUA, hingga penguatan peran penyuluh agama.

Dalam tanggapannya, Hj. Mahdalena menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi umat, terutama dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan, di tingkat nasional melalui Komisi VIII DPR RI.

Kegiatan serap aspirasi ini diakhiri dengan diskusi terbuka yang berlangsung hangat dan konstruktif, mencerminkan semangat sinergi antara Kementerian Agama dan para pemangku kepentingan keagamaan di Bima.

Galery:












 

Remaja dan Bahaya Pornografi

Dr. Abdul Munir, M.Pd.I
(Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Bima)

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri dan pembentukan karakter. Di masa ini, remaja berada dalam tahap perkembangan fisik, emosi, dan spiritual yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk media digital. Di era teknologi yang semakin terbuka, salah satu ancaman serius yang mengintai generasi muda adalah pornografi.

Pornografi, baik berupa gambar, video, maupun tulisan yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat, telah menyebar luas di internet dan media sosial. Pengaruh buruknya tidak hanya merusak akhlak dan pikiran, tetapi juga dapat merusak masa depan. Islam, sebagai agama yang menjunjung tinggi kesucian jiwa dan kehormatan manusia, telah memberikan peringatan keras terhadap segala hal yang dapat merusak pandangan dan hati, termasuk pornografi.

1. Definisi Pornografi dan Dampaknya

Pornografi adalah segala bentuk media yang menampilkan ketelanjangan atau aktivitas seksual dengan tujuan membangkitkan nafsu syahwat. Menurut ilmu psikologi, pornografi dapat menyebabkan kecanduan, melemahkan konsentrasi, menurunkan empati sosial, dan menghambat pertumbuhan moral.

Dampaknya pada remaja sangat serius, seperti:

ـ           Ketergantungan pada materi pornografi (addiction)

ـ           Menurunnya minat belajar dan prestasi

ـ           Gangguan psikologis seperti rasa malu, bersalah, dan cemas

ـ           Menurunnya sensitivitas moral terhadap zina dan pelecehan

ـ           Kemungkinan besar menuju perzinahan dan penyimpangan seksual

2. Pandangan Islam Terhadap Pornografi

Islam mengajarkan untuk menjaga pandangan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mendekatkan pada zina. Allah berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.' Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nur: 30)

Dalam ayat berikutnya, Allah juga memerintahkan wanita beriman untuk menjaga pandangan dan aurat mereka (QS. An-Nur: 31). Perintah ini menunjukkan pentingnya menjaga diri dari rangsangan syahwat yang tidak halal, termasuk lewat media visual.

3. Hadis Nabi Tentang Menjaga Pandangan dan Kemaluan

Nabi Muhammad bersabda:

الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ
“Kedua mata juga berzina, dan zina keduanya adalah memandang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa melihat sesuatu yang haram bisa menjadi dosa, walaupun tidak sampai melakukan zina secara fisik. Maka, menonton pornografi termasuk dalam zina mata dan membuka pintu kepada dosa-dosa yang lebih besar.

4. Strategi Perlindungan Remaja dari Pornografi

Islam memberikan solusi komprehensif dalam menjaga remaja dari bahaya pornografi:

ـ           Menanamkan iman dan rasa takut kepada Allah sejak dini

ـ           Meningkatkan pengawasan orang tua dan pendidikan akhlak di rumah

ـ           Menjaga pergaulan yang baik dan menjauhi teman yang menyimpang

ـ           Mengisi waktu luang dengan kegiatan positif seperti mengaji, olahraga, dan dakwah

ـ           Menghindari akses ke situs-situs yang tidak bermanfaat

ـ           Membiasakan diri dengan shalat dan dzikir

Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."
(QS. Al-Isra’: 32)

Perintah ini melarang bukan hanya zina, tetapi juga hal-hal yang mendekatinya, termasuk menonton pornografi yang bisa membangkitkan nafsu kepada zina.

Remaja adalah generasi penerus yang harus dijaga dari pengaruh negatif, termasuk pornografi yang dapat merusak moral dan masa depan mereka. Islam secara tegas melarang segala bentuk tindakan dan media yang mengarah kepada perzinaan, termasuk melihat hal-hal yang membangkitkan syahwat. Oleh karena itu, penting bagi para remaja untuk mengisi hidup mereka dengan keimanan, kegiatan yang bermanfaat, serta lingkungan yang sehat. Orang tua, guru, dan masyarakat harus bersinergi dalam mendidik generasi muda agar terhindar dari jeratan pornografi dan tumbuh menjadi insan yang bertakwa.

Daftar Pustaka

1.      Al-Qur’an al-Karim

2.      Shahih al-Bukhari

3.      Shahih Muslim

4.      Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Beirut: Darul Fikr

5.      Al-Munajjid, Muhammad Shalih. Fatwa Islam tentang Pornografi - IslamQA

6.      Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Nashaih li Syabab al-Muslim

7.      Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dampak Pornografi pada Anak dan Remaja, 2023.

 


01 Agustus, 2025

Menjaga Amanah dan Tanggung Jawab

Amanah dan tanggung jawab merupakan dua konsep penting dalam ajaran Islam yang menjadi dasar dalam membangun kepribadian Muslim yang berintegritas. Keduanya tidak hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan sesama, tetapi juga mencerminkan hubungan antara manusia dengan Allah . Islam meletakkan nilai-nilai amanah dan tanggung jawab sebagai fondasi moral yang kuat untuk menciptakan kehidupan individu dan sosial yang adil, jujur, dan teratur.

1. Pengertian Amanah dan Tanggung Jawab dalam Islam

Amanah (الأمانة) secara bahasa berarti kepercayaan atau sesuatu yang dititipkan kepada seseorang untuk dijaga. Secara istilah, amanah mencakup segala bentuk tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan penuh kejujuran dan keadilan, baik dalam bentuk materi, jabatan, maupun tugas moral dan spiritual.

Tanggung jawab adalah kewajiban untuk memikul dan menunaikan sesuatu dengan penuh kesadaran, kesungguhan, dan konsekuensi atas hasilnya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
(QS. An-Nisā’ [4]: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah adalah perintah Allah dan wajib ditunaikan.

2. Amanah sebagai Ukuran Keimanan

Rasulullah menjadikan amanah sebagai salah satu ciri keimanan dan tolok ukur kejujuran seorang Muslim. Dalam hadis disebutkan:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa memegang janji.”
(HR. Ahmad, no. 12575; Hasan)

Ini menunjukkan bahwa amanah tidak bisa dipisahkan dari identitas keislaman seseorang. Seorang Muslim yang sejati tidak akan mengkhianati amanah dalam bentuk apapun.

3. Ragam Amanah dan Tanggung Jawab

Amanah dalam Islam tidak terbatas pada harta benda, tetapi mencakup:

·         Amanah pribadi: Menjaga tubuh, waktu, dan potensi sebagai anugerah Allah.

·         Amanah sosial: Menjalankan tugas di masyarakat, jabatan publik, dan tanggung jawab pekerjaan.

·         Amanah spiritual: Menjaga salat, puasa, zakat, dan hubungan dengan Allah.

·         Amanah keluarga: Mendidik anak, memimpin rumah tangga dengan baik.

·         Amanah ilmu dan informasi: Tidak menyebarkan hoaks atau menyalahgunakan pengetahuan.

4. Konsekuensi Mengabaikan Amanah

Mengabaikan amanah termasuk ciri orang munafik, sebagaimana sabda Nabi :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: ... وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: ... dan jika diberi amanah, dia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketidakjujuran dan pengkhianatan terhadap amanah berdampak buruk pada diri sendiri dan masyarakat, seperti runtuhnya kepercayaan, rusaknya institusi, dan terciptanya ketidakadilan.

 

Menjaga amanah dan tanggung jawab merupakan prinsip utama dalam Islam yang mencerminkan integritas, kejujuran, dan kedewasaan iman seseorang. Dalam konteks sosial dan profesional, nilai ini menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan saling percaya. Setiap Muslim wajib menyadari bahwa amanah bukan hanya beban duniawi, melainkan amanah ilahi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari kiamat.

Daftar Pustaka

1.      Al-Qur'an al-Karim

2.      Muslim, Imam. Sahih Muslim.

3.      Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad, No. 12575.

4.      Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Beirut: Dar al-Fikr.

5.      Qaradhawi, Yusuf. Akhlak Muslim, Maktabah Wahbah, 2001.

6.      Syekh Abdurrahman As-Sa'di. Tafsir As-Sa'di.

 


30 Juli, 2025

Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an: Warisan Terindah Sepanjang Zaman

Al-Qur’an adalah kalamullah, petunjuk hidup umat manusia. Mencintai Al-Qur’an bukan hanya berarti membacanya, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan. Salah satu tanggung jawab terbesar orang tua Muslim adalah menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anak-anak mereka sejak dini. Karena anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an akan menjadi pribadi yang kokoh iman dan mulia akhlaknya.

Mengapa Harus Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an?

  1. Al-Qur’an sebagai Jalan Hidup

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Qur’an adalah petunjuk. Menjadikannya sebagai sumber ilmu sejak kecil akan membentuk anak tumbuh dengan nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan semangat ibadah.

  1. Pahala Jariyah yang Terus Mengalir

Seorang anak yang mencintai Al-Qur’an akan membaca, menghafal, mengajarkan, dan mengamalkannya. Ini menjadi pahala abadi bagi orang tuanya.

Rasulullah bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika anak Adam meninggal, terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

 

Langkah-Langkah Mendidik Anak Cinta Al-Qur’an

1. Mulai Sejak Dini

Kenalkan Al-Qur’an sejak anak masih kecil, bahkan sejak dalam kandungan dengan memperdengarkan ayat-ayat suci. Anak yang terbiasa mendengar bacaan Al-Qur’an akan tumbuh dengan cinta terhadapnya.

2. Jadilah Teladan

Anak-anak meniru orang tuanya. Maka orang tua harus rutin membaca, menghafal, dan merenungkan Al-Qur’an. Sikap hormat terhadap mushaf, membaca dengan tartil, dan menangis saat membaca ayat-ayat tertentu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga.

3. Ciptakan Lingkungan Qur’ani

Pasang murotal di rumah, tempelkan ayat-ayat pilihan di dinding, masukkan anak ke taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) atau lembaga tahfidz, dan batasi pengaruh media yang menjauhkan dari nilai-nilai Islam.

4. Gunakan Metode yang Menyenangkan

Gunakan lagu-lagu islami, kisah-kisah nabi, dan permainan edukatif untuk mengajarkan Al-Qur’an. Jangan terlalu memaksa apalagi dengan kekerasan, karena cinta tumbuh dari kasih sayang dan keteladanan, bukan paksaan.

5. Berikan Penghargaan atas Usaha Anak

Pujian, hadiah, atau sekadar pelukan akan memotivasi anak untuk terus mencintai Al-Qur’an. Jangan menuntut hafalan sempurna, tetapi hargai proses dan semangat anak.

 

Buah dari Anak yang Cinta Al-Qur’an

1)       Hatinya tenang, tidak mudah gelisah atau tersesat oleh pengaruh zaman.

2)       Akhlaknya terjaga karena terbiasa dengan nilai-nilai Qur’ani.

3)       Kelak di akhirat, ia akan memakaikan mahkota cahaya untuk orang tuanya.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
"Akan dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah (ke surga), dan tartillah sebagaimana kamu tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang kamu baca."
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

 

Mewariskan harta bisa habis. Tapi mewariskan cinta Al-Qur’an kepada anak adalah investasi abadi. Mari jadikan rumah kita sebagai rumah yang hidup dengan lantunan ayat-ayat Allah. Mari didik anak-anak kita menjadi generasi yang dekat, cinta, dan hidup bersama Al-Qur’an.

 



29 Juli, 2025


Hasad atau iri hati adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Dalam Islam, hasad termasuk dosa besar karena berpotensi merusak amal dan menimbulkan kebencian serta permusuhan antar sesama. Seorang Muslim yang beriman diperintahkan untuk menjaga kebersihan hatinya dari sifat-sifat tercela seperti hasad, dan menggantinya dengan sifat qana'ah dan tawakkal kepada Allah.

 

1. Pengertian Hasad

Secara bahasa, hasad (الحسد) berarti mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain dan berpindahnya nikmat itu kepada dirinya. Berbeda dengan ghibtah, yaitu menginginkan kenikmatan yang dimiliki orang lain tanpa berharap orang itu kehilangan nikmat tersebut.

Hasad adalah tanda ketidaksukaan terhadap takdir Allah, karena pada hakikatnya semua nikmat datang dari Allah .

 

2. Dalil Al-Qur’an tentang Bahaya Hasad

Allah berfirman dalam Surah Al-Falaq:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
(QS. Al-Falaq: 5)¹

Ayat ini menunjukkan bahwa hasad adalah sumber kejahatan yang perlu dimohon perlindungan kepada Allah dari bahayanya.

 

3. Hadis tentang Bahaya Hasad

Rasulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud no. 4903, Hasan)²

 

4. Penyebab Hasad

Beberapa penyebab munculnya hasad antara lain:

·         Kebencian dan permusuhan

·         Sifat kompetitif duniawi yang berlebihan

·         Cinta terhadap popularitas dan kekuasaan

·         Tidak ridha terhadap ketentuan Allah

 

5. Dampak Buruk Hasad

·         Merusak amal kebaikan

·         Memutus tali persaudaraan

·         Menumbuhkan rasa dengki dan permusuhan

·         Mengundang murka Allah

·         Menjadikan hati gelisah dan tidak tenang

 

6. Cara Menghindari Hasad

a. Menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ
“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Jumu’ah: 4)³

b. Bersyukur atas nikmat yang Allah berikan

Rasa syukur membuat hati menjadi lapang dan menjauhkan dari iri terhadap nikmat orang lain.

c. Berdoa memohon perlindungan dari hasad

Rasulullah mengajarkan untuk selalu membaca Surah Al-Falaq dan Al-Ikhlas agar terlindung dari hasad.

d. Mendoakan kebaikan untuk orang yang diberi nikmat

Mengganti rasa iri dengan doa akan melatih hati untuk bersih dan ikhlas.

e. Mengingat bahwa iri tidak mengubah takdir Allah

Hasad tidak akan mengurangi nikmat orang lain, tetapi justru merugikan pelakunya sendiri.

 

7. Kisah Teladan

Hasad pertama kali terjadi dari Iblis terhadap Nabi Adam alayhis-salām, karena tidak menerima bahwa Allah memuliakan Adam. Akibat hasad tersebut, Iblis dilaknat dan terusir dari rahmat Allah.

 

Hasad adalah penyakit hati yang menghancurkan diri sendiri dan membahayakan hubungan sosial. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang bersih, senang terhadap kebaikan orang lain, dan yakin bahwa rezeki serta nikmat ditentukan oleh Allah. Dengan menjauhi hasad dan memperbanyak syukur, seseorang akan hidup damai, tenang, dan penuh keberkahan.

 

Catatan Kaki (Referensi)

1.      Al-Qur’an, Surah Al-Falaq: 5.

2.      Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, no. 4903; dinilai hasan oleh Al-Albani.

3.      Al-Qur’an, Surah Al-Jumu’ah: 4.

 


Popular

Popular Posts

Blog Archive