Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

10 September, 2026

DOROKABUJU.COM — Ada tradisi keagamaan yang menarik dan sarat nilai edukasi dalam prosesi pernikahan di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di tengah beragam tradisi pernikahan yang berkembang di Indonesia, KUA Kecamatan Sape dan KUA Kecamatan Lambu memiliki praktik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sebelum melaksanakan ijab kabul, calon pengantin terlebih dahulu diminta menunjukkan kemampuan membaca ayat Al-Qur’an dan bacaan sholat melalui praktik satu rakaat.

Praktik ini menjadi bagian dari upaya memberikan pembekalan keagamaan kepada calon pasangan suami istri sebelum mereka memasuki kehidupan rumah tangga.

Bukan Sekadar Prosesi, tetapi Bekal Berumah Tangga
Pernikahan bukan hanya tentang mengucapkan akad di hadapan penghulu dan keluarga. Lebih dari itu, pernikahan merupakan awal perjalanan panjang membangun keluarga yang diharapkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Karena itu, kemampuan dasar dalam membaca Al-Qur’an dan melaksanakan sholat menjadi hal penting bagi calon pengantin.

Melalui praktik tersebut, calon pengantin tidak hanya mendapatkan pembinaan secara teori, tetapi juga diarahkan untuk memperlihatkan kemampuan dasar keagamaannya secara langsung.

Hal ini melengkapi proses pembinaan yang selama ini diberikan oleh penyuluh agama di KUA kepada calon pengantin.

Kearifan Lokal yang Mendapat Respons Positif
Praktik yang diterapkan di KUA Kecamatan Sape dan Lambu tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Masyarakat pun disebut memberikan respons yang sangat positif.

Bagi masyarakat, kegiatan tersebut dipandang sebagai sesuatu yang bermanfaat dan keharusan karena memberikan kesempatan kepada calon pengantin untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Bahkan, tradisi ini dapat dilihat sebagai bentuk kearifan lokal bernuansa keagamaan yang memiliki nilai edukatif.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi semacam ini menjadi menarik karena mengingatkan kembali bahwa pernikahan tidak hanya membutuhkan kesiapan administratif, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual.

Calon Pengantin Diingatkan Kembali Pentingnya Al-Qur’an dan Sholat


Pembacaan Al-Qur’an dan praktik sholat sebelum akad juga membawa pesan simbolis yang kuat.

 Setelah akad diucapkan, pasangan suami istri akan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dalam kondisi tersebut, Al-Qur’an dan sholat diharapkan menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga.

Dengan demikian, pembekalan calon pengantin tidak berhenti pada urusan administrasi pernikahan. Ada pesan agar kehidupan rumah tangga sejak awal dibangun dengan fondasi nilai-nilai agama.

 Bisa Menjadi Inspirasi bagi Daerah Lain


Tidak semua wilayah memiliki praktik yang sama. Karena itu, apa yang berjalan di Kecamatan Sape dan Lambu menjadi salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai agama dapat dipadukan dengan kearifan lokal dalam pembinaan calon pengantin.

Jika dikelola dengan baik, praktik semacam ini bukan hanya menjadi tradisi menjelang akad, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya kesiapan agama sebelum membangun keluarga.

Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar tentang “sah” di hadapan hukum dan agama, tetapi juga tentang kesiapan menjalankan tanggung jawab sebagai suami dan istri.

Tradisi yang berlangsung di Sape dan Lambu ini memberikan pesan sederhana namun mendalam: sebelum membangun rumah tangga, pastikan bekal agamanya juga dipersiapkan.


Nonton Video :



26 Juli, 2025

Peserta Tari Kreasi : SDN Inpres. Simpasai

Sabtu, 26 Juli 2025 | Sape, Bima
— Gelaran Festival Seni dan Budaya yang diselenggarakan oleh Sanggar La Nggoli bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bima kembali memikat perhatian masyarakat di hari kedua pelaksanaannya, Sabtu (26/7), bertempat di Lapangan Putih Sangia, Sape.

Dengan mengusung tema besar "Literasi, Seni, dan Budaya yang Cerdas, Kreatif, dan Inovatif", festival hari kedua menampilkan dua cabang lomba utama: Tari Kreasi Daerah dan Bercerita Legenda. Semangat dan antusiasme peserta maupun penonton tampak menggelora sejak siang hingga sore hari dan akan dilanjutkan malam harinya.

Tari Kreasi: Warna-warni Budaya Anak Negeri

Sebanyak 14 sekolah tingkat dasar dan madrasah ibtidaiyah menampilkan tarian kreasi khas daerah yang menggugah semangat cinta budaya sejak dini. Berikut peserta yang memeriahkan panggung:

  1. SDN Inpres Simpasai

  2. SDN 1 Simpasai

  3. SDN Inpres Sari

  4. MI Ulil Albab Sangga

  5. SDN Kaleo

  6. SDN 1 Sari

  7. SDN Nanga Pambu

  8. SDN Inpres Sari

  9. SDN Kowo

  10. SDN Inpres Kowo

  11. MI Nurul Amin

  12. MIS Yasim Sari

  13. SDN Nanga Nuri

  14. SDN Bugis

Setiap penampilan mencerminkan kekayaan ragam budaya Bima, dikemas dengan kostum warna-warni, gerak dinamis, dan narasi tari yang mendalam. Penonton tampak terpukau, tak henti memberi tepuk tangan.

Bercerita Legenda: Warisan Lisan yang Dihidupkan Kembali

Peserta Cerita Legenda: utusan SMPN 1 Sape

Sementara itu, pada sesi Lomba Bercerita Legenda, 7 sekolah tingkat menengah tampil membawakan kisah-kisah legenda Nusantara dan lokal Bima yang penuh pesan moral. Para peserta menunjukkan kemampuan retorika, ekspresi, dan kedalaman cerita yang mengesankan.

Berikut daftar peserta:

  1. SMPN 2 Lambu

  2. SMPN 1 Sape

  3. SMPN 2 Lambu (grup 2)

  4. SMAN 2 Sape

  5. SMP IT Nurul Amin

  6. MTs Darussakinah

  7. MTsN 2 Bima

Dengan gaya tutur yang memikat, beberapa peserta berhasil memancing emosi audiens — mulai dari haru, kagum, hingga gelak tawa — menjadikan siang itu begitu hidup dan bermakna.

Apresiasi dan Harapan

Perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat. “Festival ini bukan hanya ajang lomba, tapi ruang edukasi budaya untuk anak-anak dan remaja kita agar bangga menjadi bagian dari Bima yang kaya akan warisan seni dan tradisi,” ujar salah satu panitia.

#FestivalBudayaBima #SanggarLaNggoli #SeniDanLiterasi #BanggaBudayaBima #LapanganPutihSape #HariKeduaFestival


25 Juli, 2025


Sape, 25 Juli 2025
— Festival Pentas Seni dan Budaya dalam rangka Hari Jadi Bima ke-385 yang digelar oleh Sanggar La Nggoli bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bima resmi dimulai malam ini dengan penuh semarak. Bertempat di Lapangan Putih Sangia, malam pertama festival menghadirkan berbagai mata lomba yang memukau dan menghibur ribuan penonton dari berbagai kalangan.

Dengan mengusung tema “Literasi, Seni, dan Budaya yang Cerdas, Kreatif, dan Penuh Inovasi”, festival ini menghadirkan tiga mata lomba utama, yakni Tari Kreasi Bima, Bercerita Legenda, dan Fashion Show. Sebanyak 20 peserta dari berbagai sekolah dan instansi tampil menunjukkan bakat dan kreativitas terbaik mereka.


Rincian Peserta Malam Pertama:

1. Lomba Tari Kreasi Bima
Diikuti oleh 8 Sekolah Dasar:

  • SDN 3 Sape

  • SDN Inpres Nari 1

  • SDN 6 Sape

  • SDN 1 Sape

  • SDN 5 Sape

  • SDN 2 Sape

  • SDN 4 Sape

  • SDN Stampa Lawa

2. Lomba Bercerita Legenda
Diikuti oleh 7 sekolah tingkat SMP dan SMA:

  • SMP 5 Sape

  • SMA 3 Sape

  • SMP 4 Sape

  • SMA Muhammadiyah Sape

  • MAN 2 Bima

  • SMA PGRI Lambu

  • SMA 1 Lambu

3. Lomba Fashion Show
Menampilkan 5 peserta dari institusi dan komunitas:

  • Polsek Sape

  • MTs Darussakinah Sape

  • SMP 2 Lambu

  • Khanza Studio

Antusiasme para peserta dan dukungan masyarakat yang memadati lokasi acara menjadi bukti nyata bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga sebagai momentum pelestarian budaya daerah.

Festival ini akan berlanjut hingga hari ke 2 besok dengan penampilan seni lainnya yang tak kalah menarik.



Sape, 25 Juli 2025
— Dalam rangka memperingati Hari Jadi Bima yang ke-385, Sanggar La Nggoli bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Bima menggelar Festival Pentas Seni dan Budaya yang berlangsung selama dua hari, mulai Jumat hingga Sabtu, 25–26 Juli 2025, di Lapangan Putih Sangia, Kecamatan Sape.

Dengan mengusung tema "Literasi, Seni, dan Budaya yang Cerdas, Kreatif, dan Penuh Inovatif", acara ini diawali dengan pawai budaya yang spektakuler. Ribuan peserta dari berbagai instansi pemerintahan, lembaga pendidikan, sanggar seni, komunitas pemuda, serta masyarakat umum turut ambil bagian dalam pawai yang dimulai dari Masjid Besar Al-Munawwarah Sape hingga Lapangan Putih Sangia.


Pawai budaya menampilkan kekayaan busana adat, pertunjukan musik tradisional, atraksi budaya lokal, serta poster literasi yang menggambarkan semangat kolaboratif antara dunia seni dan dunia literasi. Festival ini menjadi wadah aktualisasi kreativitas generasi muda dan pelestarian budaya lokal yang penuh warna.

Di lokasi utama acara, pengunjung disuguhi beragam pertunjukan seni dari sanggar-sanggar lokal, lomba baca puisi, pertunjukan tari tradisional, hingga pameran buku dan dokumentasi sejarah Bima yang diselenggarakan oleh Sanggar La Nggoli bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah.


Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk menumbuhkan kecintaan terhadap seni, budaya, dan literasi di kalangan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas dan karakter daerah Bima di tengah arus modernisasi.


Popular

Popular Posts

Blog Archive